Korban Doni Salmanan Bingung Tak Ada Perkembangan Penanganan Kasus Quotex

Ketua Paguyuban Korban Doni Salmanan Quotex Indonesia, Finsensius Mendrofa, yang juga pengacara para korban mengatakan, hingga saat ini para korban juga tengah kebingungan karena tidak ada pengembangan kasus dari Dittipidsiber.

Korban kasus penipuan berkedok opsi biner, Quotex, mempertanyakan perkembangan kasus tersebut kepada Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. Mereka menganggap penanganan kasus itu mandek atau tidak ada perkembangan.

“Korban banyak menanyakan perkembangan kasus DS karena tidak ada update terutama dalam pengembangan kasus,” kata dia saat dihubungi, Jumat, 15 April 2022.

Menurut Finsensius, para korban mengharapkan supaya Dittipidsiber Bareskrim tidak hanya berhenti menelusuri kasus Quotex ini setelah berhasil menangkap Doni Salamanan, yang diduga sebagai afiliator aplikasi opsi biner tersebut. Sebab, dalang kasus itu belum juga ketemu.

“Kami berharap kasus DS tidak berhenti di DS, mestinya harus dibongkar siapa dibalik Quotex dan siapa yang merekrut DS dan yang membantunya selama ini,” ucap Finsensius.

Korban Doni Salmanan Bingung Tak Ada Perkembangan Penanganan Kasus Quotex

Selain dalang dari Quotex yang belum juga terungkap dan belum adanya pengembangan penelusuran kasus, Dittipidsiber katanya juga belum memberikan informasi kepada para korban ihwal upaya menelusuri aset-aset digital yang dimiliki Doni Salmanan.

“Kami juga belum mendengar penyidik siber melakukan penelusuran aset digital milik DS,” ujar Finsensius.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri sebelumnya menyatakan, masih menelusuri dalang dari kasus penipuan daring melalui aplikasi opsi biner Quotex. Dalam kasus ini, polisi baru menahan Doni Salmanan yang diduga sebagai afiliator aplikasi tersebut.

Kasubdit I Dittipidsiber Bareskrim Polri, Komisaris Besar Reinhard Hutagaol mengatakan, untuk mengungkap pemilik aplikasi tersebut, tim penyidik masih memeriksa sejumlah saksi-saksi. Hingga kini, total saksi yang telah diperiksa tim penyidik katanya sebanyak 61 orang.

“Masih diselidiki. Saksi total sudah 61 orang,” kata dia Rabu, 6 April 2022.

Penyidik Dittipidsiber telah memperpanjang masa penahanan Doni Salamanan selama 40 hari sejak masa penahanan habis pada 29 Maret 2022. Doni telah ditahan sejak 9 Maret 2022, sehingga dengan perpanjangan itu batas waktu penahanan hingga 8 Mei 2022.

Dalam kasus tersebut, Doni Salmanan dijerat dengan Pasal 45 ayat 1 juncto 28 ayat 1 UU ITE, Pasal 378 KUHP, dan Pasal 3 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan pemberantasan TPPU dan terancam hukuman 20 tahun penjara.