Perbedaan Diakronik dengan Sinkronik dalam Berpikir Sejarah

Sesuatu yang dapat melintasi batas waktu disebut diakronik, sedangkan kajian yang lebih menitik beratkan untuk meneliti gejala-gejala yang lebih luas dinamakan sinkronik. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan https://www.noisaremotutto.org/ berikut. Melansir dari repositori.kemdikbud.go.id dalam Modul Sejarah Indonesia Kelas X KD 3.1 dan 4.1 dijelaskan apa itu diakronik dan sinkronik.

Diakronik adalah konsep berpikir secara runtun atau kronologis yang dimaksudkan sebagai catatan terkait peristiwa yang terjadi secara runtun yang berdasarkan pada waktu kejadian tersebut. Sedangkan dalam bahasa Yunani, sinkronik yang berasal dari kata “Syn” yang artinya “Dengan”, dan “Chronoss” yang berarti “Waktu” menekankan kepada struktur dan kerap digunakan untuk meneliti ilmu-ilmu sosial. Sinkronik memiliki makna yang luas di dalam ruang, akan tetapi mempunyai batasan waktu.

Perbedaan Diakronik dengan Sinkronik dalam Berpikir Sejarah

 

Diakronik dan sinkronik dapat digunakan untuk mempelajari sejarah atau berpikir sejarah. Dilansir dari sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id diakronik berasal dari dua kata yakni “Dia” dalam bahasa latin berarti “Melalui/Melampaui”, dan “Chronicus” yang artinya “Waktu”. Jadi maksud diakronik ialah memanjangkan waktu namun terbatas akan ruang.

Berpikir sejarah secara diakronik artinya berpikir secara kronologis dalam menganalisis suatu hal. Kronologi sejarah dapat membantu mengurutkan kembali suatu peristiwa berdasarkan susunan waktu yang tepat, serta memudahkan dalam proses perbandingan antara kejadian yang terjadi pada waktu yang sama namun di tempat yang berbeda.

Dengan pendekatan diakronik, sejarah berusaha untuk menganalisis perubahan sesuatu dari masa ke masa yang mungkin dianggap sebagai perubahan yang terjadi sepanjang waktu.

Melalui pendekatan ini, sejarawan akan menganalisis dampak terhadap evolusi dari suatu variabel yang memungkinkan sejarawan untuk melakukan pengendalian alasan lahirnya situasi tertentu dari kondisi sebelumnya, atau alasan dari berkembangnya keadaan tertentu.

Memahami peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dengan menelusuri perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia sejak masa penjajahan Belanda dapat menjadi contoh. Oleh karenanya, berpikir sejarah secara akronisdi sangat mementingkan proses terjadinya sebuah peristiwa.

Adapun berpikir sejarah secara sinkronik ialah dengan berpikir secara luas dalam ruang namun terbatas waktu. Sinkronik menganalisa suatu kejadian pada saat tertentu dengan titik tetapnya ada pada waktu. Sinkronik hanya menganalisis kondisi suatu peristiwa, tidak berupaya untuk membuat kesimpulan terkait perkembangan peristiwa yang ikut serta dalam suatu situasi.

Peristiwa sejarah, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dengan menguraikan aspek sosial, ekonomi, politik, dan hubungan internasional menjadi contoh. Intinya berpikir sejarah secara sinkronik adalah cara berpikir yang khusus untuk ilmu-ilmu sosial.